Kampung Unik di Sumba, Singgah ke Desa yang Suasananya Indah Mirip Zaman Megalitikum
Suasana Kampung Adat Praijing yang Damai
Berada di desa ini sangat menenangkan. Suasananya masih alami dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang padat. Dijamin Anda akan betah berlama-lama untuk tinggal di sini. Kampung Adat Praijing mulanya terdapat sekitar 42 rumah tradisional. Namun, pada tahun 2000 sebagian rumah-rumah tersebut terbakar.
Saat ini terdapat tiga bagian rumah adat, yaitu Lei Bangun atau kolong rumah sebagai tempat memelihara ternak, Rongu Uma atau tingkat kedua, untuk tempat tinggal, dan Uma Daluku yaitu menara atau loteng digunakan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan alat pusaka.
Kepercayaan Marapu
Marapu merupakan bentuk kepercayaan mayoritas masyarakat Sumba. Di mana pembagian rumah tersebut dilakukan karena masyarakat meyakini arwah-arwah para leluhur atau Marapu berada di bagian menara rumah, dan dipercaya memantau kegiatan dari keturunannya yang masih hidup. Sedangkan menara yang berada pada bagian tengah rumah ditopang dengan empat tiang yang berfungsi sebagai penopang rumah.
Pintu Masuk Pria dan Perempuan Berbeda
Ada empat tiang di dalam rumah dan ruang yang digunakan untuk tempat memasak berupa perapian. Keunikan lainnya, setiap tiang memiliki ukiran tertentu, yang membedakan antara pintu laki laki dan perempuan.
Pintu untuk perempuan terletak di dekat dapur yang menjadi aktivitas Inna atau ibu. Pintu ini biasanya digunakan oleh ibu ketika hendak pergi ke pasar. Sementara, tiang untuk laki-laki berada dekat dengan ruang tamu yang digunakan sebagai tempat diskusi para pria. Umumnya, pintu laki-laki digunakan oleh kepala rumah tangga untuk masuk ke dalam rumah.
Lokasi Kampung Adat Praijing
Kampung adat Praijing berada di Desa Tebara, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur atau terletak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Waikabubak. Jika berangkat dari kota Waikabubak, hanya berjarak 3 km saja. Saat ini akses jalan sangat mudah karena sudah beraspal, tetapi untuk sampai di kampung ini tidak ada alat transportasi umum, sehingga biasanya wisatawan menyewa kendaraan atau menggunakan jasa tour. Selaim itu, tiket masuk kampung adat ini cukup murah dan terjangkau. Bagi setiap grup yang ingin memasuki desa wisata ini dikenakan biaya yaitu Rp50.000 per grup.
Editor: Vien Dimyati