Kampung Unik di Ngawi, Singgah ke Desa yang Dihuni Ratusan Kerbau, Suasananya Mirip di Afrika
Di Dusun Bulakpepe, kerbau masih dipelihara secara tradisional. Para peternak akan menggembalakan kerbaunya dua kali dalam sehari yaitu pagi dan siang. Sedangkan pada sore hari, kerbau-kerbau tersebut akan digiring ke sungai untuk minum sekaligus berendam. Mayoritas warga yang tinggal di Dusun Bulakpepe adalah pemelihara kerbau. Ada 100 lebih warga desa yang memelihara ternak ini. Masing-masing memiliki minimal 10 ekor, bahkan ada yang 35 ekor.
Awal mula Kampung Kerbau
Ratusan kerbau yang saat ini ada di Dusun Bulakpepe ini telah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat. Menurut cerita warga, kerbau-kerbau di Dusun Bulakpepe pada zaman dahulu dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah. Selain beternak, sebagian warga kampung Kerbau juga ada yang menjalankan kegiatannya sebagai petani. Dengan banyaknya jumlah kerbau, terlebih dengan kesibukan yang ada kadang para peternak menggunakan jasa orang lain untuk menggembalakan ternak mereka.
Kandang kerbau komunal
Pada awalnya kandang kerbau masyarakat Dusun Bulakpepe dibangun di sekitar rumah-rumah peternak. Namun, setelah mendapat imbauan dari kepala dusun, kini para peternak membangun kandangnya secara komunal di pinggir desa yang letaknya dekat dengan hutan. Hal tersebut dimaksudkan agar dusun Bulakpepe lebih bersih.
Wisata atraksi alternatif di Ngawi
Dalam meningkatkan potensi atraksi wisata di Bulakpepe, alias Kampung Kerbau ini, biasanya digelar acara Gumbregan Mahesa dan Karnaval Mahesa yang diikuti oleh ratusan kerbau milik masyarakat. Acaranya dilakukan bertepatan dengan panen yang dilaksanakan satu tahun sekali. Maksud dari ritual ini yaitu untuk mewujudkan syukur para peternak kerbau terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hewan ternak (kerbau) hingga selesai mengerjakan sawah.
Editor: Vien Dimyati