Indahnya Kehidupan Suku Terasing di Riau, Tinggal di Pinggir Sungai Tanpa Gadget dan Listrik
"Beristirahat di hutan bebas dan makan seadanya, bukanlah hal yang aneh bagi mereka. Namun, sebatas ilmu pengetahuan yang mereka miliki, inilah kehidupan," ujar pria yang dikenal dengan nama Bang Jhay.
Punya transportasi sendiri
Karena sumber penghidupan masyarakatnya bergantung pada air, mereka juga memiliki transportasi sendiri berupa perahu dayung atau perahu mesin. Kehidupan masyarakat yang saat ini dianggap sudah lebih modern jika dibandingkan dengan kehidupan nenek moyang suku tersebut. Sedangkan untuk alat penangkap ikan tak lagi menggunakan alat-alat tradisional. Namun, masih aman bagi lingkungan sekitar.
Menjual hasil tangkapan ikan
Hasil tangkapan ikan yang didapat, kemudian akan dijual kepada pengepul-pengepul ikan yang ada di desa sekitar tempat masyarakat suku terasing ini tinggal. Kemudian dari pengepul inilah, ikan-ikan tersebut akan dijual kembali ke pasaran.
Tidak disebutkan secara pasti suku apa yang bermukim di pinggiran sungai ini. Namun, melihat cara hidup suku ini kemungkinan masyarakat ini adalah orang-orang dari suku Sakai.
Mereka bermukim di sekitar Kabupaten Bengkalis. Seperti Kandis, Balai Pungut, Kota Kapur, Minas, Duri, dan beberapa wilayah lainnya. Suku ini dikenal dengan kehidupannya yang nomaden dan bergantung pada hasil hutan.
Adapun sumber yang menyebutkan jika suku ini mulanya merupakan percampuran dari ras Weddoid dan Minangkabau yang bermigrasi ke tepi sungai Gasib.
Editor: Vien Dimyati