Indahnya Akulturasi Budaya di Pecinan Glodok, Mozaik hingga Kuliner Jadi Saksi
Pantjoran Tea House menjadi representasi bagaimana kuliner dapat menjadi medium penyatuan budaya. Delapan teko yang tersusun rapi di depan bangunan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol penghormatan kepada kapiten Tionghoa yang pernah berperan penting di kawasan tersebut.

"Dari Apotek Chung Hwa yang berdiri sejak 1928 hingga menjadi Pantjoran Tea House, tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang interaksi berbagai budaya melalui hidangan yang disajikan," tambah Andre.
Sandiaga Uno, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pernah menyampaikan bahwa nilai storynomics tourism yang dimiliki kawasan ini begitu besar. Artinya, Glodok adalah contoh sempurna bagaimana berbagai budaya seperti Tionghoa, Sunda, Betawi, dan Jawa, dapat berbaur menciptakan harmoni yang unik dan bernilai tinggi.
Dengan begitu, menurut Rosmawaty Hilderiah P, dosen pembimbing mata kuliah Komunikasi Antar Budaya UMB, dengan dilakukannya studi lapangan ini, memberikan perspektif baru bagi mahasiswa atau generasi muda lainnya.
"Mahasiswa tidak hanya belajar teori komunikasi antarbudaya, tetapi juga melihat langsung bagaimana akulturasi budaya terjadi dan bertahan selama ratusan tahun," jelasnya.