Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Richard Lee Dicekal ke Luar Negeri usai Gugatan Praperadilan Ditolak
Advertisement . Scroll to see content

Heboh Kasus Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Kemenkes Sebut Perjalanan Luar Negeri Belum Dibatasi

Jumat, 28 Juni 2024 - 20:36:00 WIB
Heboh Kasus Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Kemenkes Sebut Perjalanan Luar Negeri Belum Dibatasi
Heboh Kasus Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Kemenkes Sebut Perjalanan Luar Negeri Belum Dibatasi (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Belakangan ini, Jepang sedang dihebohkan dengan merebaknya infeksi sindrom syok toksik streptokokus (STSS), yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes kelompok A. Bahkan, tercatat kasus STSS di Jepang telah melampaui 1.000 dan menjadi perhatian global. 

Bakteri ini dijuluki pemakan daging karena dapat menghancurkan kulit, lemak, dan jaringan di sekitar otot dalam waktu singkat. Penularan STSS terjadi melalui pernapasan dan droplet (percikan ludah atau lendir) dari penderita.

Lantas, apakah kasus ini berdampak terhadap pembatasan perjalanan dari dan ke Jepang? Menurut keterangan resmi dari Kementerian Kesehatan baru-baru memastikan, hingga saat ini, tidak ada pembatasan perjalanan dari dan ke Jepang terkait dengan STSS.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait peningkatan kasus iGAS atau invasive Group A Streptococcal disease, termasuk STSS, di Eropa pada Desember 2022, tidak ada rekomendasi pembatasan perjalanan ke negara-negara yang terdampak.

Pengobatan STSS dilakukan dengan pemberian antibiotik. Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk mencegah infeksi bakteri pemakan daging.

Sejauh ini, wabah bakteri pemakan daging yang belakangan sedang heboh di Jepang, kasusnya tidak ditemukan di Indonesia. "Kalau sampai saat ini di Indonesia belum ada laporan ya untuk kasus bakteri pemakan daging," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam keterangan resminya baru-baru ini.

Namun, dia terus memantau situasi melalui surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI) – Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dan pemeriksaan genomik. Kasus STSS yang dilaporkan di Jepang, umumnya kasus di rumah sakit yang disebabkan bakteri streptokokus. Biasanya muncul dengan gejala faringitis atau peradangan pada tenggorokan atau faring.

Infeksi STSS bisa berakibat fatal karena pasien dapat mengalami sepsis dan gagal multiorgan. Namun, penyebabnya secara pasti masih belum diketahui karena gejala STSS biasanya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat.

Perlu diketahui, Jepang telah melaporkan kasus infeksi streptokokus dalam sistem notifikasi surveilans sejak 1999. Pada 2023, terdapat 941 kasus, dan angka ini meningkat menjadi 977 kasus pada Juni 2024.

Meskipun mengkhawatirkan, tingkat penyebaran STSS dipastikan jauh lebih rendah dibandingkan dengan Covid-19. Masyarakat diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup sehat, menggunakan masker saat sakit, dan membiasakan mencuci tangan secara rutin. "Yang paling penting saat ini, kebiasaan baik yang sudah terbentuk di masa pandemi Covid-19 terus dijalankan seperti cuci tangan pakai sabun dan memakai masker, sehingga meminimalisasi perpindahan droplet lewat pernafasan," kata dr Nadia.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut