Brand Fashion Lokal Kembali Eksis di Paris Trade Show, Kenalkan Koleksi Ramah Lingkungan
"Salah satu kekuatan utama program ini terletak dalam koneksi ke berbagai mitra di kedua sisi," kata Fabien, melalui keterangannya belum lama ini.
Thresia Mareta, Pendiri Lakon Indonesia dan co-inisiator Pintu Incubator mengatakan, program Pintu 2023 mendapatkan banyak antusiasme dan apresiasi positif dari berbagai pihak. "Melalui kolaborasi dengan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Francais Indonesia (IFI), kami berharap dapat meningkatkan fashion Indonesia dan mendorong Indonesia menjadi bagian dari ekosistem global sehingga dapat membuka peluang yang lebih besar bagi banyak pelaku secara luas," kata Theresia.
Sementara itu, Soegianto Nagaria, Ketua JF3 sekaligus co-inisiator Pintu Incubator mengatakan, JF3 secara konsisten mendukung dan memberdayakan SME lokal selama hampir 20 tahun, termasuk melalui program Pintu Incubator. "Bermitra dengan organisasi terkemuka dan Kedutaan Besar Prancis, kami menawarkan peluang bagi brand lokal untuk memiliki kesempatan memperluas wawasan pasar mode global, dan pada saat yang bersamaan, kita bisa saling mempromosikan karya dan sekaligus memperkenalkan pengrajin, pelaku UMKM mode Indonesia kepada para pelaku mode dari Prancis," ujar Soegianto.
Kenalkan Sustainable Fashion
Dua brand berbakat yang eksis di Premiere Classe Paris 2023 adalah Bertjorak dan Fuguku. Bertjorak, menghadirkan keceriaan budaya Indonesia dalam desain eklektik yang memancarkan energi positif sambil mencerminkan keunikan. Dimulai di Bandung pada 2020, Bertjorak memperkenalkan busana siap pakai modern untuk perempuan dan pria (uniseks). Karyanya hadir dalam warna-warna eksentrik dengan filosofi penyebaran energi positif di antara penggemar mode dan masyarakat umum.
Dalam pembuatan semua produk, Bertjorak secara konsisten melakukan penelitian dan eksplorasi berdasarkan tren terkini. Untuk koleksi baru yang diberi nama "Captcha," Bertjorak mempersembahkan koleksi 12 potong, menggabungkan spektrum warna dan pola yang lebih luas yang terinspirasi oleh gangguan internet kontemporer. Koleksi ini menggunakan bahan yang sepenuhnya berkelanjutan seperti katun dan kancing yang terbuat dari botol plastik daur ulang.