Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Indahnya Masjid Tjia Kaang Hoo dengan Arsitektur Tionghoa dan Betawi yang Megah!
Advertisement . Scroll to see content

Berkunjung ke Masjid Assahara Jakarta Barat, Serasa di Madinah!

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:57:00 WIB
Berkunjung ke Masjid Assahara Jakarta Barat, Serasa di Madinah!
Masjid Assahara yang mirip Masjid Nabawi, Madinah. (Foto: Niko Prayoga)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Berkunjung ke Masjid Assahara Jakarta Barat membawa Anda ke nuansa Madinah, Arab Saudi. Hal itu gegara payung besar yang ada di pelataran masjid. 

Ya, payung besar dengan hiasan ornamen di pelataran Masjid Assahara menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang ingin beribadah di sini. Adanya payung besar ini membawa siapa pun serasa berada di Madinah. 

Masjid ini terletak di Komplek Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Enam payung besar dengan ornamen yang indah dan hiasan lampu berwarna emas berdiri kokoh membuat para jemaah masjid merasa takjub. 

Bukan tanpa alasan, para jemaah merasa sedang dibawa ke suasana di Masjid Nabawi dengan adanya payung tersebut. Apalagi jika suasana mulai menjelang malam, semburat lampu berpadu dengan cahaya senja menambah keindahan payung besar tersebut.

Seperti yang dirasakan oleh Harlan, jemaah yang terbiasa melakukan ibadah sholat di Masjid Assahara. Ia menyebut, ketika melihat payung dibuka, dirinya langsung teringat suasana di Madinah. 

"Dengan adanya payung di Masjid Assahara seperti di Madinah ya terlihat jadi bagus masjidnya. Ini mengobati rasa rindu akan Madinah, ya. Terlihat seperti di Madinah," kata Harlan saat diwawancarai di Masjid Assahara, Jumat (27/2/2026).

Tidak hanya itu, ia menilai kehadiran payung tersebut bukan hanya hiasan belaka, namun juga memiliki sisi fungsional sebagai peneduh para jemaah yang tidak mendapat tempat di bagian dalam saat momen-momen tertentu seperti hari besar Islam atau ibadah sholat Jumat.

"Terus juga tadinya kan ini tidak ada payung, jemaah banyak kalau membludak sampai di halaman masjid, mereka kepanasan. Nah, dengan adanya payung, sekarang jemaah dapat terfasilitasi, jadi tidak kepanasan atau pun kehujanan," ucap dia.

Ia mengaku, sebelum adanya payung tersebut para jemaah sering merasa kepanasan saat berada di pelataran masjid. 

Payung besar di Masjid Assahara Jakarta Barat serasa di Madinah. (Foto: Niko Prayoga)
Payung besar di Masjid Assahara Jakarta Barat serasa di Madinah. (Foto: Niko Prayoga)

"Ya, saya sendiri pernah pada saat penuh masjid, saya kedapatan di sini, di selasar masjid ini. Pada saat belum ada payung, itu memang panas, sekarang dengan adanya payung seperti ini menjadi lebih teduh, lebih adem gitu kan," tutur dia.

Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa payung tersebut juga bisa membantu kekhusyuan ibadah para jemaah yang terpaksa harus duduk di pelataran masjid karena tidak mendapat tempat di dalam. 

"Ya, dengan adanya payung juga menambah kekhusyukan jemaah. Jadi pada saat kedapatan duduk di di bawah payung, jadi lebih khusyuk karena tidak kepanasan, ya, lebih adem,” ungkap Harlan.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Masjid Assahara, Tajudin Roni, menuturkan bahwa hadirnya payung besar di pelataran masjid  memang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Hal tersebut juga selaras dengan tujuan dari pengurus masjid dan juga Pemkot Jakarta Barat yang ingin membuat desain masjid berbeda dari masjid pemerintah kota lainnya.

"Kami terinspirasi dari Masjid Nabawi. Kami berpikir apa salahnya kan meniru yang baik. Karena belum ada di antara setiap kantor Wali Kota itu masjid seperti ini. Jadi kami ingin mempunyai nilai lebih, sehingga nanti ada suatu perbandingan antara masjid yang lain itu sehingga masjid lain itu bisa meniru," tutur Roni. 

Dengan adanya payung besar layaknya di Masjid Nabawi, membuat Masjid Assahara bisa memberikan kenyamanan ekstra bagi jemaah sekaligus menjadi ikon kebanggaan baru meski di tengah keterbatasan lahan.

"Kenapa demikian? Karena kami menginginkan Masjid Assahara ini nanti banyak dikunjungi oleh masyarakat dan banyak juga jemaah-jemaah yang ingin ke sini untuk beribadah," tambah dia. 

Meski demikian, keindahan tersebut tidak bisa dinikmati jemaah setiap hari. Hal itu dikarenakan pengurus masjid sudah menentukan jadwal untuk membuka payung. Roni menjelaskan, payung akan dibuka secara rutin setiap Jumat untuk pelaksanaan sholat Jumat. 

"Kami tadinya hampir setiap hari, tapi sekarang kami batasi hanya hari Jumat saja. Jumat kami buka supaya nanti jemaah bisa shalat di bawah payung. Mereka menikmati keindahan payungnya. Jadi tiap hari Jumat saja kami buka," jelas Roni. 

Selain hari Jumat, payung hanya aja dibuka ketika ada perayaan hari besar Islam atau acara-acara tertentu yang membutuhkan fungsi payung tersebut. 

"Dan apabila ada kegiatan dari wali kota atau bapak-bapak asisten, Seko dan wali kota, wakil wali kota itu biasanya ada kegiatan masing-masing sesuai dengan permintaan beliau kami buka," sambung dia.

Keputusan tersebut dibuat lantaran payung yang kerap patah dan rusak jika terkena angin kencang atau hujan yang cukup lebat. Sehingga, demi keamanan jemaah dan pemeliharaan payung tersebut tidak bisa dibuka setiap hari.

"Alasannya karena kadang-kadang risikonya tinggi. Kalau angin kencang takutnya nanti kebawa angin. Pernah lah kemarin kami buka tiap hari, namun angin ini kencang sekali apalagi ada hujan," pungkas dia.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut