5 Fakta Kawah Sileri Dieng yang Eksotis, Unik Ada Pemandangan Langka saat Pagi Hari
Berwisata ke Kawah Sileri dapat digolongkan sebagai aktivitas yang menakjubkan karena Anda dapat menyaksikan gemuruh perut bumi disertai dengan uap panas. Anda juga masih bisa menyaksikan pemandangan yang masih sangat alami di sekitar Pegunungan Pagerkandang-Gunung Sipandu, bukit-bukit hijau menjulang, serta lahan pertanian milik warga yang menambah suasana asri.
Lokasi
Kawah Sileri ini masih termasuk dalam daerah wisata dataran tinggi Dieng. Kawah ini berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.
Pemandangan
Pada saat pagi hari uap dari kawah sileri ini seperti masih menempel di permukaan air, kemudian jika ditunggu sampai beberapa saat uap air ini akan mulai terangkat, dan terpisah dari permukaan air. Pemandangan yang cukup langka dapat ditemui di sini, kondisi seperti ini terjadi karena pengaruh sinar matahari yang menyinari kawasan kawah ini.
Warna Air
Nama Sileri berasal dari bahasa Jawa yaitu Leri atau air sisa cucian beras. Air kawah ini terlihat berwarna silver dan mengalir ke Sungai Dolog inilah yang akhirnya diberi nama Leri atau Sileri, sesuai dengan warna air yang terlihat kotor seperti leri
Erupsi
Erupsi pada 4 Desember 1944 dikenang sebagai salah satu bencana alam di Dieng yang memakan banyak korban. Satu dusun (Dusun Jawera) tertimbun oleh tanah longsor akibat gempa bumi yang dipicu letusan kawah. Pada masa itu tidak dilakukan evakuasi terhadap korban, sehingga dusun dibiarkan tertimbun.
Pada 2 Juli 2017 menyemburkan lumpur setinggi 200 meter yang menyebabkan 10 orang korban luka-luka. Selain itu, di tahun 2017 letusan juga telah terjadi pada 30 April dan 24 Mei. 8 April 2018 - Kawah Sileri meletus dan mengeluarkan semburan lumpur dengan tinggi kurang lebih 150 meter.
Terbaru pada 29 April2021 Kawah Sileri Dieng mengalami erupsi pada pukul 18.25 WIB. Erupsi freatik ini melontarkan material 400 meter ke arah selatan (material batuan 200 meter dan lumpur 400 meter), ke arah timur (material batuan 200 meter dan lumpur 300 meter), ke arah barat 200 meter berupa lumpur.
Editor: Vien Dimyati