Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 220.000 Orang Belum Bekerja dan 50.000 Kena PHK di Indonesia akibat AI
Advertisement . Scroll to see content

MICoCS 2026 Bahas Masa Depan Komunikasi di Era AI, Akademisi Lintas Negara Soroti Ancaman hingga Peluang

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:45:00 WIB
MICoCS 2026 Bahas Masa Depan Komunikasi di Era AI, Akademisi Lintas Negara Soroti Ancaman hingga Peluang
Akademisi komunikasi dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan China membahas masa depan ilmu komunikasi di era kecerdasan buatan di MICoCS 2026. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

NUSA DUA, iNews.id - Perkembangan artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga mengubah secara fundamental cara manusia berkomunikasi, mengonsumsi informasi, hingga membangun kepercayaan terhadap media. Isu tersebut menjadi fokus utama The 3rd Mercu Buana International Conference on Communication Science (MICoCS) yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana di Hotel Mercure, Nusa Dua, Bali, Senin (29/6/2026).

Konferensi internasional itu menghadirkan akademisi komunikasi dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan China untuk membahas masa depan ilmu komunikasi di era kecerdasan buatan. Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FIKOM Universitas Mercu Buana Dr. Heri Budianto, M.Si., konferensi bertema transformasi komunikasi di era AI itu mengupas berbagai tantangan baru, mulai dari perubahan perilaku audiens, perkembangan industri media digital, komunikasi lintas budaya, hingga pentingnya inklusi digital.

Ketua MICoCS 2026 Assoc. Prof. Dr. Afdal Makkuraga Putra, M.Si., saat membuka acara menegaskan keberhasilan komunikasi pada masa depan tidak cukup bergantung pada kecanggihan teknologi semata.

"Autentisitas, transparansi algoritma, hubungan emosional dengan audiens, serta penguatan literasi digital menjadi faktor yang menentukan terciptanya ekosistem komunikasi yang sehat, inklusif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi yang semakin pesat," kata Afdal.

Salah satu narasumber MICoCS, Dr. Ayesha Ashfaq dari University of the Punjab, Pakistan, menyoroti bagaimana algoritma AI telah mengubah pola konsumsi berita masyarakat. Menurutnya, sistem rekomendasi berbasis AI kini berperan besar dalam menentukan informasi yang diterima pengguna melalui media sosial maupun platform digital.

Dia menjelaskan kondisi tersebut memunculkan tantangan baru berupa filter bubble, echo chamber, serta meningkatnya risiko penyebaran misinformasi.

"Viralitas bukan lagi ukuran utama kredibilitas sebuah informasi. Karena itu, transparansi algoritma dan peningkatan literasi AI menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap informasi digital," katanya.

Sementara itu, Prof. Dr. Gerald Goh Guan Gan dari Multimedia University, Malaysia, menilai kesenjangan digital pada era AI tidak hanya berkaitan dengan akses internet atau perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut persoalan yang lebih kompleks, seperti bias algoritma.

Dalam forum tersebut, Dr. Liu Hao dari Zhejiang Business Technology Institute, China, memaparkan hasil penelitiannya mengenai efektivitas komunikasi digital dalam membangun citra destinasi wisata melalui media sosial.

Hasil penelitiannya menunjukkan pengalaman nyata yang dibagikan kreator konten jauh lebih efektif dibandingkan promosi formal dalam membangun keterlibatan audiens.

Selain itu, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Prof. Dr. Ahmad Mulyana, M.Si. memperkenalkan Mulyana Model, sebuah model konseptual yang menjelaskan transformasi industri makna pada era digital melalui perspektif mediamorfosis.

Mulyana menjelaskan ekonomi digital kini ditandai berkembangnya ekonomi perhatian (attention economy), ekonomi kreator, monetisasi data, hingga kapitalisme platform.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut