Peneliti BRIN Ungkap Mahasiswa Bisa Jadi Penggerak Pelestarian Bahasa Daerah
Selain itu, menurutnya, pelestarian bahasa juga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, mempelajari kosakata lokal, hingga mendokumentasikan cerita rakyat dan tradisi lisan.
"Mahasiswa merupakan generasi yang dapat menjadi penggerak pelestarian bahasa daerah. Mulailah dari hal sederhana, seperti bangga menggunakan bahasa daerah dan terlibat dalam kegiatan penelitian," katanya.
Sementara itu, Dekan FKIP UMTS, Eli Marlina Harahap, menilai pengenalan penelitian sejak di bangku kuliah menjadi bekal penting bagi mahasiswa. Menurutnya, pengalaman akademik seperti gelar wicara dapat membuka wawasan mahasiswa terhadap dunia riset sekaligus mempersiapkan mereka menjadi peneliti di masa depan.
"Kegiatan ini merupakan awal yang sangat baik dan dapat menjadi modal bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang peneliti," ujar Eli.
Senada dengan itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMTS, Nikmah Sari Hasibuan, mengatakan pengalaman akademik dan praktik lapangan penting untuk mendukung kompetensi lulusan. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi pendidik, tetapi juga peneliti dan wirausahawan di bidang bahasa dan sastra.
"Kegiatan ini penting karena berkaitan dengan profil lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, yaitu pendidik pemula, peneliti pemula, dan wirausahawan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali dengan pengalaman akademik dan praktis yang dapat mendukung pencapaian kompetensi tersebut," kata Nikmah.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang tertarik terlibat dalam penelitian dan dokumentasi bahasa daerah sehingga upaya pelestarian bahasa tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor: Muhammad Sukardi