Hari Anak Nasional 2026, PUSPADAYA Ajak Guru Jadi Garda Terdepan Cegah Bullying di Sekolah
JAKARTA, iNews.id – Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dimanfaatkan Pusat Layanan Perempuan, Anak, Disabilitas dan Pemberdayaan (PUSPADAYA) untuk memperkuat peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak.
Melalui sosialisasi Sekolah Ramah Anak yang diikuti kepala sekolah SD se-DKI Jakarta, PUSPADAYA menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam mencegah sekaligus menangani kasus perundungan (bullying).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Rajawali MNC University, Jakarta Barat, Kamis (23/7/2026), itu turut dihadiri Wakil Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Sarjoko serta Direktur PMB, Branding, dan Pemasaran MNC University Muhammad Rezki Oktavianoor sebagai bentuk dukungan terhadap upaya mewujudkan sekolah yang lebih ramah bagi anak.
Plh Ketua Umum PUSPADAYA, Amykamila, mengatakan pihaknya ingin menjadi mitra strategis bagi sekolah dan tenaga pendidik agar tidak berjalan sendiri saat menghadapi persoalan yang melibatkan peserta didik.
"Puspadaya ingin hadir di tengah-tengah masyarakat. Hari ini kami bersama guru-guru SD menyelaraskan layanan Puspadaya untuk melindungi anak," kata Amy.
Dia melanjutkan, "Kami ingin menjadi mitra strategis guru agar mereka tidak bingung saat menghadapi ancaman atau hal yang tidak menyenangkan. Salah satu fokus utama kami adalah memberikan layanan psikologis bagi korban bullying."
Menurut dia, isu bullying menjadi perhatian serius karena jumlah kasus yang terus meningkat. Berdasarkan riset internal PUSPADAYA, sekitar 30 ribu kasus perundungan dilaporkan secara daring dalam satu tahun terakhir.
Karena itu, Amy menilai sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik, bukan justru menjadi tempat yang menimbulkan rasa takut.
"Kami ingin mewujudkannya bersama dengan menjadi mitra sekolah. Apa pun yang terjadi, sekolah harus tetap menjadi tempat yang ramah bagi anak. Jangan sampai karena satu kasus, suasana belajar menjadi tidak nyaman bagi anak-anak lain. Kami menempatkan guru sebagai saksi dan tonggak utama untuk melindungi para korban," ujarnya.
Tak hanya menyediakan pendampingan psikologis, PUSPADAYA juga membuka layanan bantuan hukum bagi anak yang membutuhkan perlindungan lebih lanjut.
"PUPSPADAYA memiliki dua layanan utama, yaitu psikologis dan hukum. Jika penanganan psikologis sudah cukup, proses berhenti di situ. Namun, jika korban merasa ada hal yang dirugikan dan ingin berkonsultasi secara hukum, kami akan mendampingi sampai tuntas," tegas Amy.
Ke depan, organisasi tersebut juga akan memperluas program peningkatan kapasitas tenaga pendidik. Salah satunya melalui pelatihan 'active listener' atau kemampuan mendengarkan anak secara empatik, yang dinilai menjadi keterampilan penting di tengah tantangan komunikasi pada era digital.
"Program PUSPADAYA cukup beragam. Bagi mahasiswa, kami memiliki pelatihan Active Listener untuk mencetak lebih banyak orang yang ahli mendengarkan. Ternyata mendengarkan dengan empati itu butuh keahlian khusus dan tidak semua orang bisa, apalagi di tengah tingginya distraksi teknologi saat ini," tuturnya.
Selain guru, PUSPADAYA juga mendorong keterlibatan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak melalui edukasi pola pengasuhan (parenting). Sebab, menurut Amy, pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi di rumah.
"Kami juga bekerja sama dengan ibu-ibu PKK terkait parenting untuk menciptakan suasana aman. Lingkungan aman tidak hanya dibangun di sekolah, tetapi juga di rumah, karena keduanya saling berdampak besar bagi tumbuh kembang anak," pungkasnya.
Editor: Muhammad Sukardi