Bukan Hanya Gangguan Makhluk Halus, Ini 5 Faktor Penyebab Kesurupan Menurut Sains
3. Penularan Emosi atau Social Contagion
Kesurupan massal sering terjadi karena adanya fenomena social contagion atau penularan sosial. Saat satu orang mengalami kepanikan atau histeria, orang lain dalam kelompok yang sama dapat ikut terpengaruh karena otak menjadi lebih sugestif.
«"Ketika satu orang panik, orang lain ikut panik. Ketika satu orang histeris, otak kelompok menjadi sangat sugestif. Itulah sebabnya banyak kasus terjadi di sekolah atau pabrik yang anggotanya memiliki tekanan dan lingkungan yang sama," katanya.»
4. Lingkungan dengan Tekanan yang Sama
Sekolah, pabrik, hingga pesantren menjadi lokasi yang cukup sering terjadi kesurupan massal. Menurut Prof. Zulys, lingkungan tersebut umumnya dihuni oleh kelompok yang menghadapi tekanan, rutinitas, maupun beban psikologis yang relatif serupa sehingga lebih mudah memunculkan reaksi kolektif.
5. Sugesti yang Kuat
Selain tekanan psikologis, sugesti juga berperan besar dalam memicu kesurupan. Ketika seseorang menyaksikan orang lain mengalami histeria, rasa takut dan kecemasan dapat memengaruhi respons otak sehingga memicu reaksi serupa.
Meski demikian, Prof. Zulys menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, keberadaan jin merupakan realitas yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Namun, hal tersebut bukan berarti setiap kasus kesurupan harus langsung dikaitkan dengan gangguan makhluk halus tanpa terlebih dahulu melakukan ikhtiar medis maupun psikologis.
Menurut dia, ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu dipertentangkan. Ikhtiar ilmiah melalui pemeriksaan medis dan psikologis dapat berjalan beriringan dengan ikhtiar spiritual, seperti rukyah dan membaca ayat suci Al-Qur'an.
"Jadi, antara ikhtiar ilmiah dan ikhtiar spiritual tidak perlu dipertentangkan, justru saling melengkapi. Kalau semua kesurupan langsung dibilang jin, kita berhenti belajar. Kalau semua dibilang gangguan jiwa, kita juga berhenti memahami agama. Orang berilmu tidak memilih salah satu, ia mencari seluruh penjelasan yang ada," katanya.
Editor: Dani M Dahwilani