Riset IJTI: AI Permudah Kerja, tapi Tak Bisa Gantikan Jurnalis
Riset tersebut juga menyoroti tingkat keakuratan AI yang masih diragukan. Sebab itu, jurnalis dinilai tetap dibutuhkan untuk mengakurasi serta memverifikasi data yang diolah menggunakan teknologi tersebut.
“Tingkat keakuratan, nah ini optimisme kita lagi nih. AI belum tentu akurat bikin narasi-narasi yang disampaikan di media sosial atau di media-media digital. Tapi kalau jurnalis sudah bisa dijamin keakuratannya karena jurnalis memang punya kompetensi dan keahlian untuk melakukan proses verifikasi tentang informasi yang kita sampaikan,” ucap Wahyu.
Di sisi lain, tingkat kekhawatiran jurnalis terhadap potensi kehilangan pekerjaan akibat AI terbilang berimbang. Hasil survei menunjukkan komposisi jawaban berada di angka 50 banding 50 antara yang khawatir dan tidak khawatir.
“Berikutnya adalah tingkat kekhawatiran jurnalis bahwa AI bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Ini 50-50, ada yang sangat khawatir, khawatir, kemudian netral, tidak khawatir, dan sangat tidak khawatir,” katanya.
Menurut Wahyu, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Saat ini, gelombang pemutusan hubungan kerja lebih banyak dipicu oleh stagnasi bisnis media, bukan karena disrupsi AI.