Pemain Keturunan Indonesia Willhoft-King Tinggalkan Man City Demi Kuliah di Oxford
Namun rutinitas latihan pressing justru membuatnya letih secara mental. “Kami hanya berlari mengejar bola seperti anjing selama 30–60 menit.”
Di sisi emosional, kejenuhan makin terasa. “Saya tidak menikmatinya. Mungkin karena lingkungannya. Saya sering bosan,” katanya. Menurutnya, hidup sebagai pesepak bola muda justru minim aktivitas: latihan, pulang, istirahat, lalu mengulang.
Kini hidupnya sangat berbeda. Dia merasa lebih hidup, lebih sibuk, dan lebih tertantang. “Saya selalu merasa kurang terstimulasi di sepak bola. Sekarang saya bahkan kesulitan mencari waktu dalam sehari,” ucapnya.
Pada akhirnya, keputusan masuk Oxford bukan hanya tentang meninggalkan sepak bola, tetapi tentang masa depan panjang.
“Jika saya bermain di League One atau Championship, saya bisa mendapat uang yang bagus. Tapi apakah saya akan menikmatinya? Saya tidak yakin,” ujarnya. Baginya, dunia akademik memberi jaminan masa depan yang lebih panjang daripada karier sepak bola 10–15 tahun.
Editor: Abdul Haris