Kisah Hendro Kartiko, Kiper Legendaris Indonesia yang Jadi Pemain Terbaik Lawan Qatar
“Kala itu, belum ada pelatih khusus penjaga gawang. Jadi, kemampuan saya berkembang lewat gim internal atau pertandingan. Setiap selesai main, saya langsung mengoreksi diri sendiri,” ujarnya.
Lambat laun, Hendro terus berkembang dan akhirnya berhasil tembus seleksi Persewangi untuk Piala Soeratin U-17. Saat itu, Hendro menceritakan, tim yang dibelanya berhasil menembus tiga besar menghadapi Persebaya Surabaya U-17 dan Persija Jakarta U-17.
Namun demikian, Hendro belum bisa berpikir sebagai pemain sepak bola yang profesional. Pasalnya, sang Ibu menyarankan agar Hendro fokus terlebih dahulu pada pendidikan. Beruntung, Hendro mendapatkan beasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jember. Ini tangga awal Hendro sebelum dilirik oleh Ruddy Keltjes.
Semasa kuliah, Hendro mengikuti kegiatan tim sepak bola kampusnya, PS Unmuh Jember. Kegiatan itu yang kemudian membawa Hendro mewakili kampusnya untuk tampil di Pekan Olahraga Mahasiswa (PONMAS) Medan 1993.
Dari sinilah, Ruddy melihat bakat terpendam yang dimiliki oleh Hendro. Seusai POMNAS Medan, Ruddy mengajak Hendro untuk mengikuti seleksi di Mitra Surabaya. Singkat cerita, Hendro yang masih berusia 20 tahun terkejut sekaligus senang karena berhasil lolos.