Juventus Rugi Besar Jika Gagal ke Liga Champions, Kehilangan Rp1,2 Triliun
Pada periode tersebut, klub mencatatkan kerugian terbesar dalam tiga tahun terakhir dengan total mencapai €199 juta atau sekitar Rp4,09 triliun (kurs €1 = Rp20.537). Pendapatan klub juga turun sekitar €78 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.
Sebagai gambaran, pendapatan Juventus dalam beberapa tahun terakhir sangat fluktuatif. Pada 2022-23, mereka mencatat €438 juta (Rp9,01 triliun), lalu turun menjadi €360 juta (Rp7,39 triliun) pada 2023-24, sebelum kembali naik ke €420 juta (Rp8,63 triliun) pada 2024-25.
Kerugian besar pada 2023-24 terjadi ketika Juventus sepenuhnya absen dari kompetisi Eropa. Situasi 2026-27 diperkirakan sedikit berbeda karena mereka masih berpeluang tampil di Liga Europa.
Namun, perbedaan pendapatan antara Liga Champions dan Liga Europa tetap sangat besar. Pendapatan dari Liga Champions jauh lebih tinggi dibanding kompetisi level kedua Eropa tersebut.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, selisih pendapatan antara lolos ke babak 16 besar Liga Champions dan pencapaian realistis di Liga Europa seperti perempat final atau semifinal bisa mencapai €55–60 juta atau sekitar Rp1,13–Rp1,23 triliun.
Artinya, gagal lolos ke Liga Champions bukan hanya pukulan dari sisi prestasi, tetapi juga ancaman finansial besar yang bisa memengaruhi stabilitas klub dalam jangka panjang.
Juventus kini menghadapi laga penentuan yang bukan hanya menentukan tiket Eropa, tetapi juga masa depan ekonomi klub di level tertinggi sepak bola Eropa.
Editor: Reynaldi Hermawan