Bodo/Glimt Pembunuh Raksasa: Dari Stadion 8.200 Kursi ke 16 Besar Liga Champions
Bodo/Glimt baru promosi ke kasta tertinggi Norwegia pada 2017, kompetisi yang selama tiga dekade didominasi Rosenborg. Sejak itu, mereka menjelma menjadi kekuatan baru dengan meraih empat gelar liga dalam enam musim terakhir.
Perjalanan Eropa mereka pun menanjak. Musim lalu, Bodo/Glimt menjadi tim Norwegia pertama yang mencapai semifinal kompetisi besar Eropa setelah melaju ke empat besar Liga Europa. Sebelum musim ini, capaian terbaik mereka ialah menyingkirkan Lazio lewat adu penalti di perempat final sebelum dihentikan Tottenham Hotspur.
Hasil Lengkap Liga Italia 2025-2026: Inter Milan Raih 7 Kemenangan Beruntun usai Gilas Lecce
Kini level mereka meningkat drastis. Tanpa deretan bintang dan dengan anggaran terbatas, Bodo/Glimt melangkah ke babak 16 besar Liga Champions dan berpeluang menghadapi Manchester City atau Sporting Lisbon pada fase berikutnya.
Sebelumnya, mereka kerap dianggap lawan sulit karena bermain di lapangan sintetis dan cuaca dingin ekstrem di Stadion Aspmyra yang berkapasitas 8.200 penonton. Namun kemenangan tandang atas Inter membuktikan kekuatan mereka tidak hanya bergantung pada kandang.
Inter Milan Terdepan Bidik Defender Udinese, Juventus dan Roma Siap-Siap Gigit Jari
Bagi Inter, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Klub tiga kali juara Eropa itu memiliki sejarah dan anggaran jauh lebih besar. Musim lalu mereka mencapai final setelah menyingkirkan Bayern Munich dan Barcelona.
Pelatih Inter, Cristian Chivu, mengakui kualitas lawan.
"Kami tahu Liga Champions sangat kompetitif, jika sebuah tim mencapai tahap ini berarti mereka menawarkan sesuatu," kata dia.
"Mereka menunjukkan itu di Dortmund, Madrid, melawan City dan dua kali melawan kami," ujarnya.
Kekalahan Inter juga menjadi simbol kemunduran klub-klub Italia di Eropa. Juventus dan Atalanta masih tertinggal dari Galatasaray dan Borussia Dortmund, membuka kemungkinan Italia tanpa wakil di 16 besar. Situasi ini menambah tekanan bagi sepak bola Italia yang tengah berupaya mengembalikan reputasi di level tertinggi.
Editor: Reynaldi Hermawan