5 Kejadian Memalukan Sepak Bola Indonesia yang Disorot Media Asing, Ada Pemain Tinju Wasit
Insiden kerusuhan paling berdarah di Tanah Air dan juga dunia terjadi pada 1 Oktober 2022 lalu di Stadion Kanjuruhan, Malang, dalam laga yang mempertemukan tuan rumah, Arema FC dengan sang rival, Persebaya Surabaya, dalam laga lanjutan Liga 1 2022/2023. Sebanyak 135 orang tewas dalam insiden tersebut dan 600 lebih korban lainnya menderita luka-luka.
Banyaknya korban tewas yang ada membuat Tragedi Kanjuruhan masuk dalam salah satu daftar teratas insiden sepakbola paling mematikan di dunia. Yang terparah masih dipegang oleh tragedi di Estadio Nacional, Lima, Peru, yang menewaskan 328 korban jiwa pada 24 Mei 1964 silam.
Mayoritas korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan disinyalir karena para penonton yang semuanya adalah pendukung Arema FC, terinjak-injak dan juga sesak nafas. Pasalnya, para polisi yang berjaga melontarkan gas air mata ke tribun penonton ketika para Aremania turun ke lapangan usai tak puas tim kesayangan mereka dikalahkan sang rival.
Alhasil, gas air mata itu membuat para penonton panik dan berbondong-bondong menuju pintu keluar di tribun. Parahnya, akses pintu keluar tak banyak yang dibuka dan terlalu sempit sehingga banyak dari mereka yang terinjak-injak dan sesak napas hingga kehilangan nyawa.
Enam tersangka pun ditetapkan karena dianggap bertanggung jawab atas insiden mematikan itu. Mereka adalah Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) Akhmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema FC Abdul Haris, Security Officer Suko Sutrisno, Komandan Kompi III Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman, Kabag Ops Polres Malang Wahyu SS, dan Kasat Samapta Polres Malang Ajun Komisaris Polisi Bambang Sidik Achmadi.