Petani Kulonprogo Tetap Tanam Cabai meski Harga Anjlok
Sukarman mengatakan produksi cabai sepanjang lahan pantai dari Trisik (Galur) sampai Karangwuni (Wates) berkisar 50 ton hingga 60 ton per hari. Serapan cabai di wilayah DIY hanya berkisar lima ton per hari. Pangsa pasar cabai Kulonprogo mayoritas ke Jakarta, Jawa Barat, Semarang dan Sumatera.
Namun karena wabah Covid-19, serapan cabai dari wilayan itu mengalami penurunan drastis. Wilayah tersebut memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menyebabkan pasar, rumah makan, dan hotel banyak yang tutup. Hal ini juga menyebabkan harga cabai anjlok.
"Kondisi seperti ini membuat petani cabai lahan pasir menjadi dilematis. Mempertahankan tanaman cabai merugi, kalau dijual harganya rendah. Kami hanya bertahan dan berkomitmen, semoga pemkab memberikan solusi atas permasalahan ini," katanya.
Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati meminta petani tetap mempertahankan tanaman cabai, meski harga sangat rendah. Dia memahami kondisi batin petani lahan pantai dan meminta mereka tetap bersabar.
"Kami hanya bisa berharap petani cabai tetap sabar dan mempertahankan tanaman cabai sebagai bakti kepada ibu pertiwi," kata Akhid.
Editor: Nani Suherni