Peneliti UGM Sebut Warganet Tak Serius Tanggapi New Normal
"Ada lima jenis akun yang mendominasi percakapan, seperti akun pejabat publik, lembaga pemerintah, media daring, mention confess (menfess), dan akun populer Twitter," ujar Iradat.
Dalam akun menfess dan populer Twitter, warganet merasa pemberlakuan new normal terlalu dini. Mereka juga memberikan kritik melalui candaan dan bahasa sarkasme, bahkan tanggapan terhadap wacana ini menurut Iradat diwarnai meme atau gurauan yang tidak berkaitan langsung dengan wacana new normal.
Peneliti melihat terdapat kebingungan di masyarakat mengenai protokol pelaksanaan new normal. Dia merekomendasikan pengkajian ulang penerapan new normal beserta perumusan protokol kesehatan yang lebih komprehensif dan mendetail untuk menghindari kebingungan masyarakat.
"Protokol yang komprehensif dan mendetail ini juga berkaitan dengan komunikasi publik, karena sering kali komunikasi dari pemerintah itu tidak utuh. Padahal, warganet di Twitter itu cenderung kritis," katanya.
Selain itu, dia juga menyarankan akun lembaga publik untuk turut serta mengampanyekan new normal. Hal itu terbukti dari sedikitnya cuitan soal sosialisasi new normal tersebut.
"Akun pejabat publik sering mengampanyekan ini, tapi akun lembaganya justru tidak. Padahal itu perlu," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Peneliti UGM: Warganet Tak Serius Tanggapi "New Normal"
Editor: Nani Suherni