Gejayan Memanggil, Mahasiswa dan Masyarakat Yogyakarta Hari Ini Turun ke Jalan
“Kami melihat Gejayan dulu tahun 1998, baik mahasiswa UGM, UII, dan lain-lain yang ada di Yogyakarta, turun ke jalan. Mungkin sekarang mereka menjadi anggota legislatif maupun eksekutif. Artinya, Gejayan ini menjadi simbol perlawanan atau simbol teguran bagi mereka-mereka yang benar-benar berubah di saat permasalahan Indonesia yang genting pada hari ini,” katanya.
Tahun ini, Gejayan akan kembali menjadi saksi aksi gerakan rakyat di Yogyakarta. Selain itu, lokasi ini dinilai sangat strategis sebagai titik kumpul.
“Kami sepakat berkumpul di sana karena Gejayan sangat strategis sebagai tempat berkumpul mahasiswa dari berbagai universitas, masyarakat umum, pelajar-pelajar SMA yang menyatakan akan ikut aksi dan dan organisasi mahasiswa daerah seperti Riau dan Kalimantan yang korban asap juga turun ke jalan,” katanya.
Syahdan mengatakan, dalam aksi Senin siang nanti, massa menuntut tujuh poin penting yang dinilai menjadi permasalahan di Indonesia saat ini. Sesuai dengan poster yang beredar, massa mengkritik pemerintah yang dinilai semakin memojokkan rakyat melalui RKUHP, UU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor. Selain itu, pemerintah dinilai tidak serius dalam menangani isu lingkungan dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) yang tak kunjung disahkan.
“Kami mempunyai tujuh poin, dari RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, UU KPK, RKUHP, isu lingkungan pembakaran hutan, dan RUU PKS yang tak kunjung diselesaikan atau disahkan,” katanya.
Sebelum berkumpul di Gejayan dan memulai aksi, massa berkumpul di tiga titik lokasi sejak pukul 13.00 WIB. Titik kumpul I di gerbang utama Kampus Sanata Dharma, titik kumpul II di pertigaan revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan di Bundaran Universitas Gadjah Mada.
Editor: Maria Christina