Disinggung mengenai anggaran, Dwi mengaku hanya memiliki dana cadangan sekitar Rp40 juta. Tetapi dalam praktik di lapangan, dropping air bersih tidak selalu menggunakan dana APBD. Banyak perusahaan juga yang mengalokasikan dana Corporate Social Responcibility (CSR) untuk bantuan distribusi air bersih. Selain itu, ada sejumlah organisasi yang turut peduli dengan membantu penyaluran kebutuhan air bersih.
“Namun setiap bantuan ini tetap harus koordinasi dengan BPBD agar bantuan tidak tumpang tindih,” tuturnya.
Diketahui, setiap musim kemarau, sejumlah kabupaten di DIY kerap dilanda kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih. Salah satu wilayah terparah yakni Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo. Namun sama seperti di Bantul, distribusi bantuan juga terus dilakukan.
Editor: Donald Karouw