Belum Ada Vaksin, Pakar UGM Minta Masyarakat Waspadai Cacar Monyet
Wayan menjelaskan, seseorang dapat terjerat penyakit ini karena kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, kulit, dan cutaneus lesion dari satwa liar yang terinfeksi oleh virus ini. Sementara penularan melalui manusia bisa terjadi karena kontak langsung dengan saluran pernafasan, kulit yang mengandung cairan cacar atau cairan lain dari pasien.
“Namun, kasus antarmanusia masih jarang ditemukan. Di Afrika bisa terjadi karena pola makan bushmeat dari masyarakat di sana,” ujarnya.
Meski begitu, Wayan mengingatkan masyarakat tetap harus waspada. Saat ini, vaksin cacar monyet belum ditemukan. Namun wabah ini dapat dikontrol karena sebenarnya masyarakat sudah divaksinasi dengan vaksin smallpox yang telah dilakukan sejak 1980 ketika wabah cacar menyebar.
“Masyarakat masih terlindungi karena adanya kekebalan silang dari vaksin smallpox, dengan kekebalan mencapai 85%,” tuturnya.
Penyakit cacar monyet pertama kali teridentifikasi pada tahun 1958 di Republik Demokratik Kongo. Namun, penyebaran kasus secara sporadik pada manusia baru terjadi tahun 1970 di beberapa negara Afrika, seperti Republik Demokratik Kongo, Kongo, Kamerun, Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading, Liberia, Sierra Leon, Gabon, dan Sudan.
Kasus terbaru terjadi di Singapura pada 8 Mei 2019 lalu. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Singapura, penderita merupakan seorang warga negara Nigeria yang baru singgah di sana 28 April 2019.
Kasus ini terbilang wajar terjadi mengingat pada 2017 lalu, Nigeria mengalami wabah monkeypox yang cukup besar. Sebanyak 23 orang yang telah melakukan kontak dengan penderita saat ini dikarantina.
Editor: Kastolani Marzuki