Selain berkurangnya intensitas erupsi, intensitas kegempaan Gunung Sinabung juga mengalami penurunan. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan grafik energi amplitudo gempa (RSAM). Kendati pada Mei 2019, sempat terjadi 3 kali erupsi namun semuanya relatif kecil dan bertekanan rendah.
"Kemunculan gempa hybrid pada pertengahan Mei 2019 menunjukkan saat ini sumber aktivitas vulkanik bertekanan rendah. Erupsi ini kecil jika dibandingkan dengan erupsi magmatik yang terjadi Juni 2018 lalu," katanya.
Kasbani menuturkan, kendati mengalami penurunan status, pihaknya tidak akan menarik zona larangan yang sudah ditetapkan. Kawasan desa yang sudah direlokasi tetap dilarang dimasuki wisatawan maupun masyarat. Selain itu kawasan yang masuk dalam radius 3 Km sektor barat-selatan, 5 Km sektor selatan-timur, 4 Km sektor timur-utara dan 3 Km sektor utara barat dari puncak Gunung Sinabung.
Dia juga mengimbau masyarakat yang tinggal dibantaran Sungai Lau Borus untuk tetap waspada mengingat potensi lahar dingin masih terjadi. Hal ini mengingat bendungan lahar dingin sewaktu-waktu dapat jebol dan berpotensi menyebabkan banjir lahar dingin.
Editor: Donald Karouw