Pembunuh Sadis Pegawai Leasing di Serdangbedagai Ternyata 2 Remaja
“Sambil ngobrol-ngobrol di sana, terpikirlah bagaimana untuk melunasi utang tersebut karena sepeda motor salah satu tersangka disita sebagai jaminan oleh pemilik warung. Jumlah utangnya kurang lebih Rp1 juta,” papar Andi Rian.
Kemudian, mereka pulang dan terpikir untuk segera membayar utang di warung. Keduanya lalu mendatangi mes korban di Jalan Sei Rampah, Serdangbedagai. Pelaku yang diduga sudah merencanakan perampokan, masuk ke kamar korban. Sebelum mengambil uang, keduanya terlebih dahulu menghabisi nyawa korban dengan sadis.
“Sekali lagi kami sangat sayangkan karena keduanya di bawah umur dan perlakuan tersangka pada korban juga sangat sadis. Terjadi penusukan berkali-kali, bahkan ada luka sobek di wajah korban. Memang ini terjadi tiba-tiba atau sekonyong-konyong. Mereka menggunakan pisau yang ada di dapur korban untuk menghabisi korban secara bergantian. Selain dipukul dengan tangan, korban juga ditusuk dengan pisau,” paparnya.
Usai menghabisi nyawa korban, kedua pelaku kemudian mengambil uang lebih dari Rp3 juta dan tiga unit telepon seluler (ponsel). Kedua tersangka lalu turun ke bawah, mencuci tangan dan ganti baju karena ada bercak-bercak darah. Kemudian, keduanya kembali ke warung untuk membayar utang di warung tuak dan mengambil sepeda motor.
“Setelah mengembalikan sepeda motor itu ke orang tuanya, mereka ke Kabupaten Deliserdang mengambil bus dan mencoba melarikan diri. Dalam tempo 24 jam keduanya ditangkap,” kata Andi.
Korban, Murni Sitorus (48), sebelumnya ditemukan tewas bersimbah darah di tempatnya bekerja, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdangbedagai, Minggu (6/5/2018). Rekan kerja korban, Ardiansyah, yang pertama kali menemukannya tewas mengatakan, dia sebelumnya memanggil-manggil korban beberapa kali.
Karena tidak dijawab, Ardiansyah mendatangi kamarnya dan melihat korban sudah tewas bersimbah darah. Di tubuh dan wajah korban terdapat luka robek, bekas tusukan di bagian kepala dan punggung. Kondisi kamar korban di lantai tiga itu juga tampak berantakan.
Editor: Maria Christina