Fakta Barus Kota Tertua di Sumatera Utara, Benda Kuno hingga Batu Nisan Jadi Bukti

Jika mengulas sekilas sejarah kota tua Barus, Claude Guillot menguraikannya dalam buku “Lobu Tua: Sejarah Awal Barus”. Buku ini merupakan usaha memecahkan rahasia sejarah Barus sudah dilakukan sejak hampir satu setengah abad lalu, khususnya dalam bidang epigrafi dan pembahasan sumber-sumber tertulis. Buku ini secara tidak langsung menyebutkan Barus kota tertua di Sumatera Utara.
Namun, penelitian yang mendalam di lapangan baru mulai dilakukan pada akhir tahun 1980-an atas usaha Pusat Penelitian Akeologi Nasional. Kemudian pada tahun 1995, berkat persetujuan Prof Dr Hasan M. Ambary (ketika itu menjabat sebagai kepala lembaga PPAN), bersama Ecole francaise d’Ectreme-Orient diluncurkan sebuah program penelitian arkeologi di Barus, khususnya di Lobu Tua dimana pernah ditemukan banyak benda-benda kuno. Memang, banyak pertanyaaan muncul berkaitan dengan sejarah kuno Kota Barus, seperti kapan kotanya didirikan dan lokasi nama tempat Barus yang disebut dalam beberapa sumber awal.
Namun, pada tahun 1995 di Desa Lobu Tua, daerah sekitar Barus terdapat sebuah spanduk bertuliskan “Dirgahayu ke-50 negaraku dan Dirgahayu ke-5000 desaku”. Saat itu, Kepala Desa Lobu Tua menjelaskan bahwa ulang tahun desa ini didasari perkiraan seorang ahli sejarah dari daerah ini.

Sedangkan pandangan lain menyebutkan bahwa Barus adalah pelabuhan tertua di Indonesia. Dalam karya geografis Ptolemaeus tercatat lima pulau yang dinamakan “Barousai”, nama yang dikaitkan dengan Barus oleh para ahli sejarah. Sejak abad ke-6 Masehi, kamper sudah dikenal di berbagai kawasan mulai dari negeri Tiongkok hingga ke kawasan Laut Tengah.
Nama Barus sudah lama muncul apabila diterima pendapat bahwa “Barousai” yakni Barus. Kemudian nama ini tercatat dalah sejarah Dinasti Liang, Raja Tiongkok Selatan yang memerintah pada abad ke-6. Setelah itu Barus selalu disebut-sebut sampai sekarang dan kerap dihubungkan dengan kamper.
Pada abad ke-7, Barus kian tersohor hingga ke Eropa dan Timur Tengah karena menghasilkan kapur barus dan rempah-rempah. Masuknya Islam ke Nusantara diyakini melalui jalur perdagangan Barus ini. Jalur perdagangan ini dikenal sebagai jalur rempah karena para pedagang memiliki misi mencari rempah-rempah.
Claude Guillot memaparkan bukti-bukti bahwa sejak abad ke 6 Masehi Barus sudah menjadi kawasan perdagangan yang ramai. Pada akhir abad ke 7 yang juga merupakan abad pertama Hijriah, pedagang-pedagang Arab mulai menjejakkan kakinya di pelabuhan Barus.
Editor: Nani Suherni