Deretan Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal
Smong ini diceritakan secara turun-menurun melalui nafi. Nafi merupakan budaya lokal masyarakat Simeulue berupa cerita atau tutur yang berisi petuah kehidupan serta nasihat. Smong termasuk di dalamnya.
Para tokoh adat hingga tetua menyampaikan nafi kepada generasi muda guna menjadi pelajaran. Smong disampaikan kepada generasi muda dalam berbagai kesempatan. Misalnya Smong disampaikan saat memanen cengkeh. Dahulu, Simeuleu terkenal dengan cengkehnya.
Selain itu juga disampaikan di surau mengaji setelah salat Magrib. Smong juga menjadi pengantar tidur anak di malam hari. Saat ini, media penyampaian Smong mulai bertambah. Awalnya hanya melalui nafi, saat ini Smong diceritakan melalui Nanga-nanga dan kesenian Nandong masyarakat Simeulue. Tak hanya itu, Smong disenandungkan melalui puisi dan lagu.
2. Tagari Lonjo

Menurut masyarakat Balaroa, Palu dan sekitarnya, Tagari mempunyai arti daerah sedangkan Na’Lonjo yang berasal dari bahasa Kaili yang mempunyai arti tertanam atau daerah yang berawa. Tagari Lonjo ini berkaitan dengan bencana alam, yaitu likuifaksi (tanah bergerak sendiri).
Tagari Lonjo menceritakan larangan untuk melalui daerah Lonjo. Pada saat itu, pedagang yang berasal dari Marawola menuju Pasar Tua Bambaru lebih memilih memutar melalui jalur Duyu.