Banjir dan Longsor di Sumut, 46 Warga Sibolga Hilang dan 8 Orang Tewas
“Curah hujan ekstrem memicu longsor dan banjir secara bersamaan di banyak wilayah. Petugas harus bergerak cepat untuk evakuasi dan penyelamatan,” ujarnya dikutip dari iNews Medan, Kamis (27/11/2025).
Sibolga tercatat sebagai wilayah dengan jumlah warga hilang paling banyak dalam bencana ini. Kondisi geografis yang berbukit dan dekat pesisir membuat risiko bencana semakin besar.
Fokus utama tim Polda Sumut adalah menyisir lokasi banjir bandang dan longsor yang diduga menjadi titik hilangnya puluhan warga. Medan yang berat dan akses yang terputus membuat operasi penyelamatan tidak mudah.
“Tim bergerak siang dan malam karena medan cukup berat dan beberapa akses terputus,” ujar Ferry.
Secara keseluruhan di Sumut, daerah lain yang terdampak cukup berat antara lain Tapanuli Selatan (Tapsel) dengan 17 orang meninggal, 69 luka ringan, 4 luka berat, dan 500 pengungsi. Tapanuli Tengah (Tapteng) melaporkan 4 korban meninggal dunia. Humbang Hasundutan (Humbahas) mencatat 2 orang meninggal, 4 luka berat, dan 5 orang hilang.
Pakpak Bharat tercatat memiliki 2 korban meninggal dunia. Di Nias Selatan (Nisel), satu warga meninggal akibat banjir dan longsor yang menghantam wilayah pesisir dan perkampungan. Tapanuli Utara (Taput) melaporkan 5 warga luka ringan dan menghadapi gangguan akses jalan akibat material longsor.
Untuk merespons situasi ini, Polda Sumut mengerahkan 1.030 personel gabungan. Mereka berasal dari Satwil, Ditsamapta, Sat Brimob, Bid TIK, dan Biddokkes. Personel disebar ke berbagai daerah terdampak, termasuk Sibolga, untuk melakukan evakuasi, pencarian korban hilang, pendataan, pengamanan lalu lintas, hingga pembangunan posko darurat.
Editor: Donald Karouw