Untuk penanganannya, kini ada 1.512 personel gabungan dari TNI, Polri hingga masyarakat peduli api. Seluruh personel tersebar di lebih dari 300 desa dan di 90 desa yang cukup rawan.
"Kendala pemadaman itu sendiri karena lahan terbakar aksesnya sulit dijangkau. Kondisi cuaca yang panas juga menjadi salah satu faktor api cepat menjalar dari satu titik ke titik lain karena keterbatasan sumber air," ujarnya.
Selain itu, BPBD juga menurunkan empat heli water bombing untuk pemadaman melalui udara. Ada pula satu unit pesawat untuk patroli dan memastikan luas lahan yang terbakar dari udara.
"Puncak kemarau masih diprediksi hingga Agustus-September. Kami siaga di seluruh daerah rawan karhutla," tuturnya.
Terakhir, lahan terbakar terjadi di daerah Ogan Ilir yang dekat dengan jalan lintas timur Sumatera. Bahkan asap kebakaran sempat menutupi sebagian jalan hingga membuat pengendara harus berhati-hati saat melintas.
Editor: Donald Karouw