Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Viral Oknum Polisi Tampar Anggota PM di Palembang, Begini Kronologinya
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah Kota Palembang, Jangan Ngaku Wong Kito Jika Tak Tahu

Jumat, 16 September 2022 - 10:07:00 WIB
Sejarah Kota Palembang, Jangan Ngaku Wong Kito Jika Tak Tahu
Kantor Wali Kota Palembang di Jalan Merdeka yang biasa juga disebut gedung ledeng karena bekas menara air pada jaman Belanda. (Foto: Pemkot Palembang)
Advertisement . Scroll to see content

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya. Yakni negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. 

Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah di pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa yang mereka lihat dan denga. Pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan Sungai Musi, Palembang bagaikan kota di Tiggris. 

Masih mengutip laman resmi Pemkot Palembang, Kota Palembang digambarkan sebagai kota yang sangat besar, dan jika memasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. 

Pelaut-pelaut China mencatat lebih realistis tentang Kota Palembang. Mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup di atas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah di tanah kering di atas rumah yang bertiang. 

Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama). 

Setelah mengalami kejayaan di abad-abad ke-7 dan 9, maka di kurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Editor: Berli Zulkanedi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut