Mitos Pohon Cinta di Pulau Kemaro Palembang, Destinasinya Para Bucin
Siti Fatimah disebutkan seorang perempuan yang menganut agama Islam sementara Tan Bun An berasal dari Tinghoa penganut Budha. Keduanya yang saling menyayangi dan memutuskan untuk hidup bersama pergi ke China untuk meminta restu kepada orang tua Tan Bun An.
Singkat cerita, keduanya mendapatkan restu dan diberikan hadiah berupa tujuh guci besar berisikan perhiasan untuk dibawa kembali ke Palembang. Tiba di Sungai Musi, Tan Bun An mencoba membuka salah satu guci untuk memastikan isinya.
Alangkah terkejutnya, ternyata guci berisikan sawi yang sudah membusuk. Tan Bun An yang marah dan mungkin malu kepada Siti Fatimah langsung membuang guci-guci pemberian dari orang tuanya ke Sungai Musi.
Satu per satu guci dilemparkan dan tenggelam ke dasar Sungai Musi. Namun guci keenam terjatuh dan pecah di dalam kapal, dan ternyata di bagian bawah sawi yang busuk terdapat perhiasan.
Merasa bersalah, Tan Bun An tanpa pikir panjang menceburkan dirinya ke Sungai Musi untuk mengambil kembali enam guci yang sudah dibuang. Namun tidak kunjung kembali, sehingga disusul pengawalnya dan juga tidak kembali.