Rahmah El Yunusiyyah Perintis Pendidikan Islam Perempuan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Selain berperan sebagai pendidik, Rahmah juga aktif dalam perjuangan nasional. Pada masa pendudukan Jepang, dia memimpin organisasi Haha No Kai di Padang Panjang, yang diam-diam menjadi wadah pembinaan semangat anti-kolonial di kalangan perempuan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Rahmah memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang. Dia mengerahkan para siswi Diniyah Putri untuk membantu perjuangan dengan menyiapkan logistik, obat-obatan dan perlengkapan tentara.
Pada masa Agresi Militer II, Rahmah ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 karena aktivitasnya membantu perjuangan rakyat. Namun, semangatnya tak pernah surut. Setelah bebas, dia terus memperjuangkan pendidikan dan nasionalisme perempuan hingga terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai Masyumi pada Pemilu 1955.
Kontribusinya di bidang pendidikan tak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Pada 1955, Imam Besar Al-Azhar Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Diniyah Putri dan terinspirasi oleh model pendidikannya.
Dua tahun kemudian, Rahmah menerima gelar kehormatan “Syekhah” dari Universitas Al-Azhar, gelar yang belum pernah diberikan kepada perempuan non-Mesir sebelumnya. Pengakuan ini juga menjadi dasar pendirian Kulliyatul Banat, fakultas khusus perempuan di Al-Azhar.