Masjid Tuo Kayu Jao, Perpaduan Arsitektur Islam dan Budaya Minangkabau
Dari segi arsitektur, masjid ini juga mengalami asimilasi terhadap Budaya Minangkabau, yakni rumah gadang. Atap masjid yang terbuat dari ijuk terdiri dari tiga tingkat. Antara tingkatan terdapat celah yang dibuat untuk pencahayaan.
Arsitektur lokal berupa “rumah gadang” terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.
Menurut Aguswal Riyanto, salah satu keturunan dari pendiri masjid sekaligus pengelola atap masjid tersebut disangga 27 tiang yang merupakan simbolisasi dari enam suku di sekitar masjid. Masing–masing terdiri atas empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur dari agama, yakni khatib, imam, dan bilal.
Masing-masing tiang berukuran lingkar 25 cm hingga 30 cm,tiang masjid hanya diletakkan di atas batu sandi sebagai pondasi. Tiang-tiang terbuat dari kayu kelas satu, dengan jenis yang belum diketahui.
Simbolisasi juga terdapat di jendela dengan jumlahnya yang ganjil sebanyak 13 buah, yang mengandung makna 13 rukun salat.
Suasana dalam masjid meski agak usang karena material bangunan yang sudah tua, tetapi tetap terasa sejuk, walaupun tanpa pendingin udara. Selain itu, ada taman yang ditanami bunga – bunga indah di sekitar masjid, membuat sedap mata memandang, memotret dan berlama–lama di kawasan masjid.
Salah satu benda yang menjadi ikon di masjid ini adalah beduk atau tabuah dalam bahasa minang,bedug yang terletak di sebelah masjid, diperkirakan usianya juga sama dengan masjid tersebut.
Editor: Eldiki Nanda