Tarian Kabasaran, Legenda Keberanian Waraney Pertahankan Tanah Minahasa
Dalam beberapa catatan, visi dan misi seorang Waraney begitu mulia. “Esa Kita Peleng…! Esa Woan Pawetengan Kumihit Un Posan. Taan Kita Peleng Esa…! Maesa Wian Untep…! Maasa Masaru Se Kaseke Wana Ng’Kesot…!” (Satu Kita Semua…! Satu Lalu Dipisahkan Tempat Karena Kebaktian Agama/Ajaran. Tapi Kita Semua Satu…! Satu Dibagian Dalam…! Bersatu Menghadap Musuh Dari Luar…!)
Menuju itu semua tidaklah mudah. Proses ritual dari jalan hidup seorang Waraney cukup panjang. Sejarah panjang Waraney yang merupakan prajurit perang pemberani dari bangsa Malesung (Orang Minahasa) yang tidak pernah mundur dalam setiap peperangan yang terjadi di zaman kolonial maupun sebelum zaman kolonial sudah teruji.
Meski pada akhirnya Waraney tenggelam karena ulah kompeni. Tapi sebelum ada kolonial Belanda, Waraney merupakan tentara bangsa Malesung yang menjadi ujung tombak di setiap suku di Minahasa dalam melawan segala sesuatu yang dapat mengancam bangsa Malesung baik itu berupa binatang buas maupun manusia.
“Siapa pun yang berniat berbuat jahat di tanah Minahasa pasti akan kami lawan. Inilah sebenarnya fungsi Kabasaran dulu,” kata Pembina Kabasaran Waraney Totokay Pineleng, Kabupaten Minahasa, Micky Sondakh dalam sebuah kesempatan.
Pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kebudayaan Sulut itu menjelaskan, dalam beberapa literatur seperti apa yang disampaikan C J Lengkong dalam bwaraneyblog dijelaskan, sepanjang perjalanan waktu masuk dalam kolonial Belanda, para Waraney tetap kokoh menjaga setiap prinsip dasar mereka.