Cerita IRT di Minut, Tinggalkan Dunia Perbankan dan Raih Sukses dari Jualan Cilok
Dan ternyata benar, usaha tak akan mengkhianati hasil. Setelah pandemi mulai berakhir, anak-anak kembali ke sekolah, usaha yang dibukanya mulai ramai. Sebab tempatnya membuka usaha di salah satu tenan minimarket yang dekat dengan sekolah SMP dan SMA sehingga banyak pembeli.
Cilok yang dia jual seharga Rp1.000 pun laris manis. Pundi-pundi rupiah mulai terkumpul sehingga pada waktu itu, pendapatannya dari menjual cilok mencapai Rp750.000 hingga Rp800.000 per hari. Jumlah tersebut tentu membuatnya terus mengucapkan rasa syukur.
“Pada saat itu, memang saya bersyukur dengan hasil yang diperoleh dari menjual cilok,” ucapnya.
Dengan banyaknya permintaan, Liani mengaku harus menyiapkan bahan baku 15 kilogram per hari untuk membuat cilok dalam jumlah banyak. Dia tak pernah kesulitan karena bekerja dengan hati senang serta kebutuhan bahan baku selalu tersedia, termasuk tuna.
”Untuk bahan baku saya tak pernah kesulitan, karena cukup tersedia. Saat ini saya hanya pesan, langsung tersedia.” tuturnya.