Apa Julukan Sulawesi Utara, Salah Satunya Daerah Tujuan Investasi
Aksesibilitas tersebut didukung dengan adanya Pelabuhan Hub Internasional Bitung sebagai hub perdagangan bagi Kawasan Timur Indonesia. Berjarak 44 km dari Ibu Kota Manado, KEK Bitung diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan dan distribusi barang serta penunjang logistik di kawasan timur Indonesia.
Dengan total area seluas 534 ha, KEK Bitung berbasis pada keunggulan komoditas daerah Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Indonesia, KEK Bitung fokus pada industri pengolahan perikanan untuk menghasilkan komoditi ekspor berkualitas internasional.
Selain perikanan, KEK Bitung juga fokus pada industri kelapa beserta produk turunannya yang memiliki pasar yang sangat luas dan diminati baik dalam skala nasional maupun internasional.
Berdasarkan potensi wilayah dan keunggulan geostrategis, KEK Bitung diharapkan mendorong hilirisasi dan mendongkrak daya saing sektor perikanan, agro, farmasi dan diproyeksikan menarik investasi sebesar Rp.32,89T dan diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 34.710 tenaga kerja hingga tahun 2025.
5. Daerah di Bibir Pasifik
Apa julukan Sulawesi Utara selanjutnya yaitu terletak di Bibir Pasifik. Hal ini menjadikan peluang sebagai pusat perdagangan dan industri keuangan di Bibir Pasifik. Kondisi geografi, geoposisi, hingga geostrategi Sulawesi Utara menjadikan daerah ini berpotensi menjadi Pintu Gerbang Pasifik.
Potensi tersebut dapat dilihat, dari posisi Sulut yang strategis, yang berada di bibir Pasifik, sementara dunia sedang melihat Pacific area akan menjadi pusat jalur perdagangan dunia yang sangat lengkap, dengan adanya pembangunan jalur sutra darat oleh China, yaitu Guangzhou sebagai pusat pelabuhan yang mampu menghubungkan arus perdagangan dari Lautan Pasifik menuju Eropa melalui darat dengan kereta api.
Berawal dari cita-cita pahlawan nasional asal Sulut, Sam Ratulangi, keinginan menjadikan Sulawesi Utara sebagai Pacific Gateway of Indonesia diwujudkan oleh pemerintah, masyarakat, dan stakeholder daerah tersebut.
Editor: Cahya Sumirat