JAKARTA, iNews.id- Tradisi Bugisbaku tikam dalam sarung, merupakan tradisi pertarungan di dalam sarung yang melibatkan dua orang untuk menyelesaikan suatu masalah.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis, mereka biasa menyelesaikan permasalahan dengan beradu langsung tanpa melibatkan banyak orang.
Mengenal Tradisi Metatah, Ritual Potong Gigi di Bali
Dikutip dari wajokab.go.id, asal mula Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka.
Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.
Tradisi Unik Rambut Bertanduk Palsu Suku Miao, Cara Mengenang Leluhur dan Percantik Diri
Salah satu tradisi Bugis yakni, baku tikam dalam sarung yang dikenal dengan Sigajang Laleng Lipa. Penuntasan pertikaian unik, dengan saling tikam menggunakan senjata Badik atau alat warisan keluarga yang telah diberi mantra leluhur di dalam sebuah sarung.