Puluhan Dokter dan Tenaga Medis di Maros Mogok Kerja, Pasien Telantar
Menurut para dokter dan tenaga medis, pemotongan dana BPJS Kesehatan oleh P3RS membuat para dokter dirugikan. Selain itu, pemotongan dana juga membuat kinerja mereka selama ini terhambat lantaran kurangnya sarana dan prasarana penunjang di RSUD Salewangang.
Dalam aksinya, mereka meminta kepada Pemerintah Kabupaten Maros untuk membenahi sistem manajemen kesehatan menjadi lebih sehat dan efektif. Salah satunya dengan mereformasi sistem pelayanan dan informasi di rumah sakit.
Akibat aksi mogok kerja, puluhan pasien rawat jalan telantar. Sejumlah pasien yang datang sejak pagi untuk memeriksa kesehatan, harus pulang dengan kecewa karena dokter tidak membuka pelayanan di Poli RSUD Salewangang.
“Kami sudah menunggu empat jam, dari dari jam 07.00 pagi, tapi dokternya belum ada. Saya datang dengan ibu saya yang sakit DM (Diabetes Mellitus),” kata keluarga pasien, Ninik.
Menurut Ninik, kejadian seperti itu sangat merugikan pasien. Apalagi, para pasien tidak mendapat informasi yang jelas mengenai pelayanan yang terganggu. Mereka hanya diberitahu ada masalah internal.
“Kalau begini, pasien kan sangat dirugikan. Masalahnya tidak ada kejelasan dari pegawai penyebabnya apa dan sampai kapan. Selain itu, dokter kan banyak. Seharusnya dokter bisa bergantian melayani, jangan pasien yang dikorbankan,” kata Ninik.
Meski aksi ini diikuti oleh sebagian besar dokter, pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruangan rawat inap masih tetap normal. Pihak dokter juga berjanji akan terus menggelar mogok kerja sampai ada keputusan dari Pemkab Maros terkait tuntutan mereka.
Editor: Maria Christina