Dijegal Berkali-kali, Danny: Ada Ketidakadilan Luar Biasa
JAKARTA, iNews.id - Calon Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto diterjang badai politik selama proses pencalonannya kembali pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar. Pria yang akrab disapa Danny Pomanto itu mengaku sejak awal sudah dijegal berkali-kali agar tidak ikut kontestasi Pilkada 2018.
Wali Kota berlatar belakang arsitektur ini menghadapi delapan kali proses penjegalan. Puncaknya, Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar terhadap keputusan Pengadilan Tinggi Tata Tata Usaha Negara (PTTUN) yang membatalkan surat keputusan pencalonan dirinya sebagai calon wali kota Makassar. Menurut Danny, yang terakhir ini merupakan proses penjegalan terbesar yang dihadapinya. Namun, ia akan berjuang melawan dugaan ketidakadilan tersebut.
"Kami akan berjuang sampai di ujung walaupun harus kehilangan nyawa. Perjuangan itu penuh risiko dan saya dilahirkan untuk berjuang. Saya rela mati demi menegakkan kebenaran. Itu yang diajarkan oleh orangtua saya sejak lahir," ujar Danny saat berkunjung ke iNews Center, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Danny Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari Paramastuti Ilham bersaing melawan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi dalam Pilkada Makassar. Namun, Danny menduga ada persaingan tidak sehat karena sejak awal dirinya terus menerus diganggu agar tidak mencalonkan diri. Bahkan ia menyebut lawan politiknya menempuh berbagai cara untuk melawan kotak kosong.
"Jadi ada ketidakadilan yang luar biasa," ungkap Danny.
Meski akan melawan putusan akhir MA yang menolak kasasi KPU, Danny tetap mengimbau para pendukungnya untuk mematuhi hukum yang berlaku. Dia meminta mereka tidak melakukan tindakan anarkistis dalam memperjuangkan keadilan. Sebagai warga negara yang baik, semuanya harus taat pada peraturan termasuk upaya mendapatkan keadilan sebagai peserta pilkada.