PALU, iNews.id – Sedikitnya 200-an kepala keluarga (KK) korban bencana likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), masih tinggal di tenda pengungsian. Setahun lebih bencana berlalu, ratusan warga ini tetap bertahan sambil menunggu penuh harap akan hunian tetap (huntap) yang dibangun pemerintah dan pihak donator.
Pantauan iNews, para pengungsi korban bencana yang terjadi pada 28 September 2018 silam, masih menempati tenda terpal milik lembaga kemanusiaan. Mereka menunggu giliran namanya terdaftar sebagai penerima bangunan huntap di Kelurahan Balaroa. Di mana jarak lokasi pembangunan huntap dengan tenda pengungsian saling berdekatan.
Setahun Tinggal di Tenda Pengungsian, Begini Kondisi Warga Palu
Satu di antara pengungsi yang bertahan yakni Milham. Dia menceritakan, saat ini ada 200-an KK yang bertahan di tenda pengungsian. Mereka tak punya pilihan lain karena lokasi hunian sementara (huntara) yang dibangun untuk warga Balaroa, jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Alasan ini membuatnya bertahan di tenda agar tak jauh untuk beraktivitas.
“Dulu ada 700-an KK yang bertahan, sekarang tersisa 200-an. Sudah setahun lebih kami di sini, sampai bagian terpal tendanya banyak yang rusak,” kata Milhan, Senin (28/10/2019).
Dia mengungkapkan, warga menunggu pembangunan huntap yang dijanjikan pemerintah. Pembangunan ini dikerjakan dua tahap, di mana untuk yang pertama baru saja dimulai. Ada 123 huntap yang sedang dalam proses pembangunan.