Cerita Amira Satu-Satunya Dokter Spesialis Obgyn di Papua, Melayani hingga ke Pedalaman
Selanjutnya, mengenai kondisi fasilitas kesehatan di Papua Barat, dokter asal Bogor ini memaparkan RSUD Fakfak bertipe C dengan alat kesehatan sesuai standar akreditasi dan memiliki empat dokter dasar. Antara lain dokter bedah, penyakit dalam, kandungan dan anak.
Bagi Amira, meski fasilitas belum sempurna tapi terbilang cukup lengkap. Kondisi itu perlahan berubah dengan kehadiran Gerakan Jemput Bola yang Amira inisiasi bersama timnya untuk melayani pasien hingga pedalaman yang tidak terjangkau Puskesmas.
Mereka selama 4-6 jam melewati perjalanan laut menggunakan perahu yang bermuatan lima orang. Berhadapan dengan angin kencang, ombak, hujan deras sembari membawa bensin genset untuk alat USG karena tidak ada listrik.
Dia mengatakan, persalinan itu melibatkan dua nyawa sehingga keberadaan mereka untuk merangkul mama biang (dukun), ibu kader dan ibu hamil sebagai keluarga.
Sebelum ke pasien, mereka juga menjalin kedekatan emosional dengan mama biangnya dengan memberikan forceps, underpad dan alat persalinan steril lainnya.
“Walaupun kita tidak menganjurkan mereka lahir di rumah, tetapi setidaknya dalam kondisi emergency mama biang bisa menangani. Selain itu, dalam tim saya ada orang dinkes yang siap bergerak untuk membantu administrasi termasuk BPJS, jadi sambil menyelam minum air,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, pelayanan door to door dan heart to heart membuahkan hasil. Tak ayal, 60 persen Angka Kematian Ibu dan Anak (AKI) teratasi. Mama biang pun teredukasi. Lalu sebagai rasa syukur, pasien yang melahirkan banyak yang memberi nama anaknya Amira.
Editor: Donald Karouw