Tata Cara Salat Idul Fitri di Rumah Sendirian maupun Berjamaah
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا للهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal li'iidil fithri rok'ataini mustaqbilal qiblati adaaan imaaman lillahi ta'aala.
Artinya: Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai imam karena Allah SWT.
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal li'iidil fithri rok'ataini mustaqbilal qiblati adaaan ma;muuman lillahi ta'aala.
Artinya: Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah SWT.
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً للهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal li'iidil fithri rok'ataini mustaqbilal qiblati adaaan lillahi ta'aala.
Artinya: Aku niat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah SWT.
Waktu pelaksanaan salat Idul Fitri di rumah tak ada bedanya dengan saat di masjid atau lapangan, yakni saat dhuha atau ketika matahari tegak lurus. Hal itu sesuai dengan hadits dari Amr bin Abasah radhiallahu’anhu yang berbunyi:
قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح
Artinya: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lalu aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian janganlah shalat ketika matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil. (HR. Muslim no. 832).
Editor: Komaruddin Bagja