Sisters Forever 89 dan Smile Train Indonesia Gelar Baksos Operasi Bibir Sumbing di Sumba NTT
Sementara Program Direktor Smile Train Indonesia Ruth Monalisa mengaku menyambut baik kegiatan ini.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Karena dengan perbaikan kondisi melalui operasi bibir sumbing dan celah langit-langit, dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak dan warga yang menderita. Meraka dapat berbicara, makan dan bernapas dengan lebih baik serta bisa lebih percaya diri,” katanya.
Operasi bibir sumbing ini dipimpin Dokter Agus Santoso Budi SpBp dan 9 dokter serta tenaga medis lainnya dari Yayasan Anugerah Sentosa juga para relawan hingga berjalan dengan lancar. Setelah melalui satu hari tahapan observasi pascaoperasi, pasien diperbolehkan pulang dan tetap dipantau proses penyembuhannya selama perawatan medis di rumah.
Gerakan Senyum untuk Sumba diinsiasi Sister Forever ’89 sebagai bentuk kepedulian para alumni SMA Stella Duce 1 Yogyakarta terhadap masalah kesehatan, khususnya anak-anak dengan kondisi bibir sumbing dan celah langit-langit.
Gerakan ini didukung berbagai pihak, di antaranya Yayasan KBH Sarneli, Komunitas Relawan Kemanusiaan Sumba (Kareka Sumba), Emily07, Yayasan Anugerah Surabaya dan RS Karitas Weetabula sebagai tempat penyelenggaraan operasi.
Sisters Forever ’89 mewadahi para alumni angkatan 1989 SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Para lulusan sekolah yang muridnya perempuan ini memberi kontribusi dengan kegiatan kemanusiaan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Smile Train memberdayakan tenaga ahli medis dalam negeri dengan pelatihan, pendanaan dan sumber daya untuk memberikan operasi celah gratis serta perawatan celah komprehensif untuk anak-anak di seluruh dunia. Selain itu mengedepankan solusi berkelanjutan dan model Kesehatan global yang terukur untuk perawatan celah, yang meningkatkan kualitas hidup anak-anak, termasuk kemampuan mereka untuk makan, bernafas, berbicara dan bisa berkembang sesuai dengan tahapan usianya.
Editor: Donald Karouw