Fakta Pulau Bungin, Pulau Terpadat di Dunia yang Penduduknya Tak Perlu Beli Tanah untuk Membangun Rumah
Dulunya, luas pulau ini hanya mencapai 4 x 10 meter dan terus-menerus dilakukan pelebaran oleh penduduk setempat hingga saat ini. Warga pulau Bungin rupanya gemar menimbun laut dengan terumbu karang mati untuk memperluas pulau yang mereka tinggali.
Rumah-rumah mereka bahkan dibangun di atas tumpukan terumbu karang, bukan tanah maupun batu. Karena hal inilah, penduduk pulau Bungin tak perlu membeli tanah sebagai tempat untuk mendirikan hunian yang mereka tinggali.
Mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan.
Mayoritas penduduk dari pulau Bungin berasal dari Suku Bajo. Rata-rata dari mereka berprofesi sebagai nelayan, sehingga sebagian besar penduduk pulau Bungin biasanya akan memiliki setidaknya satu perahu motor untuk berburu ikan di laut.
Dengan komoditas tersebut, olahan ikan menjadi makanan khas yang bisa kamu nikmati saat berkunjung ke pulau Bungin. Terdapat banyak rumah makan yang menyediakan olahan seafood sebagai menu utamanya.
Di pulau Bungin, tedapat ritual Toyah yang juga cukup populer di kalangan wisatawan. Ritual Toyah sendiri merupakan ritual mengenalkan bayi baru lahir kepada laut.
Untuk menyelenggarakan ritual ini, 7 perempuan akan duduk di atas ayunan dan bergantian memangku seorang bayi. Bukan tanpa alasan, ayunan diibaratkan sebuah ombak yang akan menjadi tantangan bagi setiap penduduk pulau Bungin untuk menyambung hidup.
Apabila kamu tertarik mendatangi pulau Bungin, pulau terpadat di dunia, maka kamu perlu menuju ke pelabuhan Kayangan untuk menempuh jalur laut ke lokasi yang dituju. Selamat berkunjung!
Editor: Komaruddin Bagja