Warga Ambon Masih Mengungsi Usai Gempa M6,5 karena Teringat Kisah Tsunami Tahun 1950
Menurut cerita yang mereka dengarkan dari para orang tuanya, kala itu tsunami tidak sampai mengakibatkan korban jiwa. Sebab, warga melihat tanda-tanda yang diduga menunjukkan kapal perang milik TNI siap menyerang pendukung gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS).
“Jadi warga Hutumuri berlarian masuk hutan di kawasan perbukitan sehingga tidak ada korban jiwa, kendati permukiman dihantam tsunami menjadi luluh lantak,” katanya.
Dia juga mengatakan, setelah gempa September, warga Desa Hutumuri mengungsi karena sebelumnya melihat ikan-ikan karang yang mati terdampar di pesisir Kecamatan Leitimur Selatan.
“Kami belum menerima penjelasan resmi dari pemerintah maupun lembaga penelitian kompeten soal penyebab kematian ribuan ikan karang sehingga mengaitkannya dengan gempa,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, Farida Salampessy sebelumnya mengatakan, pascagempa bumi bermagnitudo 6,5 pada Kamis (26/9/2019), di Kota Ambon, Provinsi Maluku, jumlah warga yang mengungsi ke lokasi penampungan sementara terus bertambah. Warga mengungsi karena percaya pada hoaks atau kabar bohong yang menyebutkan akan ada gempa susulan lebih besar disertai tsunami.