Gereja Katolik Tertua di Indonesia Ternyata Ada di Kota Ini, Dibangun Abad Ke-15
Lonceng Maria yang kondisinya tetap terpelihara dengan baik dibuat Pedro Fiaz Boccaro di Portugis Tahun 1603 dan kemudian dibawa ke Ternate untuk ditempatkan di Gereja Katolik Santo Willibrordus, yang kala itu menjadi pusat penyebaran Katolik di Ternate dan wilayah sekitarnya.
Ketika konflik sosial melanda Ternate dan kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara pada 1990, menurut Titus Rahail, lonceng Maria sempat dicuri orang dan dijual kepada seorang kolektor benda antik di Surabaya.
Lonceng Maria itu kemudian dibeli seorang pengusaha di Jakarta, tetapi ketika mengetahui lonceng itu dicuri dari gereja Katolik Santo Wilibrordus, pengusaha mengembalikannya dengan ikhlas tanpa menuntut ganti rugi.
Lonceng Maria dulunya digantung di atas Gereja Katolik Santo Wilibrordus, tetapi sekarang telah ditempatkan di salah satu ruangan dalam gereja itu untuk memudahkan tamu atau wisatawan menyaksikannya. Sebab setiap tamu atau wisatawan, khususnya dari umat Katolik yang datang ke Ternate selalu ingin melihat lonceng tersebut.
Keberadaan Gereja Katolik Santo Wilibrordus di Ternate sejak abad ke-15 dan tetap terpelihara sampai saat ini menunjukkan Kesultanan Ternate dan masyarakatnya sejak zaman dahulu telah menerapkan prinsip toleransi dan keterbukaan terhadap agama di luar Islam yang menjadi agama di kesultanan tersebut.
Kesultanan Ternate dan masyarakatnya tidak mungkin mengizinkan penyebaran ajaran Katolik dan pembangunan gereja di wilayah Kesultanan Ternate, jika tidak memiliki sikap toleran dan keterbukaan terhadap agama di luar Islam.
Editor: Donald Karouw