Menurut pengakuan warga, dia dan adiknya sudah pernah mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Jiwa Kurungan Nyawa Bandarlampung pada 2018 lalu selama empat bulan.
Mereka diduga depresi karena ditinggal mati kedua orang tuanya sekitar tujuh tahun silam. Menurut dia, warga di sana sangat peduli dengan kondisi kakak adik ini, namun mereka memang tak bisa menghargai kepedulian tersebut.
"Waktu itu ada yang kasih beras, malah dibuang ke sumur. Nasi bungkus itu selalu diberikan oleh warga untuk mereka. Jadi mereka bukan tidak diperhatikan oleh kami," ujarnya.
Kerabat Wagiman dan Suyatno, Luis Jeriwai mengatakan, kedua kakak adik ini selalu mendapat perhatian masyarakat. Bukan hanya kebutuhan makan, bahkan sampai pakaian dan uang jajan harian.
"Tapi mereka kan memang mengalami gangguan. Saya kasih baju saja tidak pernah dipakai. Ini terus bajunya setiap hari yang sudah kotor dan usang," ujar dia.
Dia menilai, Wagiman dan Suyatno sudah biasa memungut bangkai di jalan untuk dimakan. Warga sering meminta mereka membuangnya, namun diam-diam bangkai itu diambil lagi saat warga lengah.
"Kadang bangkai ayam, bahkan pernah bangkai kodok," kata Luis.
Editor: Andi Mohammad Ikhbal