KAI Resmikan Pengoperasian Lokomotif Baru CC 205 Buatan Amerika di Stasiun Tanjungkarang
Investasi ini merupakan bagian dari total alokasi dana KAI sebesar USD 222,5 juta atau kurang lebih Rp3,56 triliun, yang dirancang untuk mendukung target angkutan batu bara sebesar 111,2 juta ton dan angkutan non-batu bara sebanyak 10,9 juta ton pada tahun 2029. Lokomotif CC 205 memiliki teknologi ramah lingkungan dengan kemampuan mengurangi emisi CO₂ hingga 84%, sejalan dengan visi KAI dalam menciptakan sistem logistik nasional yang efisien dan berwawasan lingkungan.
Selain itu, untuk memperkuat ekosistem logistik berbasis jalur kereta api di nasional, KAI juga tengah melaksanakan pengadaan 1.125 unit gerbong datar BM 54 ton khusus untuk angkutan barang di wilayah Sumatera Selatan. Tahap awal dari pengiriman, yakni 60 unit gerbong, telah tiba di Divre III Palembang pada tanggal 6 Juli 2025 dan sudah siap dipakai.
Setiap gerbong memiliki kapasitas muatan maksimal sebanyak 15 ton, sehingga total daya angkut yang dimiliki mencapai hingga 4.050 ton. Gerbong-gerbong ini dibuat untuk mendukung pengangkutan barang berat seperti batu bara dan material konstruksi, sekaligus memperlancar distribusi energi nasional secara efisien dan berkelanjutan.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menambahkan bahwa pengadaan lokomotif CC 205 dan gerbong datar BM 54 ton ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat peralihan sistem logistik dari moda angkut darat ke moda angkut rel yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Tindakan tersebut juga mendukung pertumbuhan sektor logistik nasional yang berkelanjutan.
Anne juga menegaskan komitmen KAI dalam meningkatkan kemandirian industri nasional dengan memproduksi seluruh gerbong datar BM 54 ton secara lokal melalui PT Industri Kereta Api (INKA), dengan memaksimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Lebih lanjut, Anne menyampaikan bahwa tambahan sarana ini disiapkan guna mendukung target angkutan batu bara sebesar 111,2 juta ton dan angkutan non-batu bara 10,9 juta ton pada tahun 2029, termasuk volume proyek dari Sumbagsel, Tarahan II, dan Kertapati yang diperkirakan dapat bertambah signifikan.
“Kami berharap dengan tambahan sarana ini, sistem logistik nasional akan semakin terintegrasi dan efisien, mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Anne.
Editor: Komaruddin Bagja