BMKG Ingatkan Warga Kalsel Waspadai Potensi Curah Hujan Tinggi dan Ancaman Banjir
Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa akumulasi jumlah curah hujan selama dua hari di Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor berjumlah 300 mm. "Jika dibandingkan pada normal jumlah curah hujan bulanan Januari sebesar 394 mm, maka kondisi ini tergolong dalam kondisi ekstrem," kata BMKG.
Cuaca ekstrem ini dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di wilayah Kalimantan Selatan yang labil. Adanya pergerakan suplai uap air dari Pasifik Timur ke Pasifik Barat (La Nina) serta suhu muka laut yang lebih hangat dari normalnya, mengakibatan aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia terutama di wilayah Kalsel menjadi lebih signifikan.
Selain itu, adanya pusaran angin tertutup (Eddy) di sekitar Kalimantan mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Laut Jawa hingga Kalimantan bagian Selatan dan Timur. Kondisi ini berpotensi memupuk massa uap air dari Laut Jawa yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan-awan konvektif yang masif di sekitar Kalimantan Selatan.
Secara umum bulan Desember 2020 dan Januari 2021 merupakan puncak musim hujan di wilayah Kalsel. Karena itu, hujan yang terjadi pada bulan-bulan tersebut merupakan hujan yang turun secara kontinyu.
Sementara untuk tiga hari ke depan, hampir seluruh wilayah Kalsel masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga lebat. Namun, yang perlu diwaspadai daerah-daerah Kalsel bagian Selatan dan Barat seperti wilayah Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin dan Hulu Sungai Selatan.