Mengenal Tatung Singkawang, Tradisi Etnis Tionghoa Salah Satu Warisan Budaya Takbenda
Roh-roh itu diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tionghoa, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.

Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki Tatung yang memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan, dengan tujuan agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan.
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang secara tidak langsung telah melahirkan akulturasi budaya. Sebab, orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung. Mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak.
Sejak pertama kali datang ke Singkawang, masyarakat Tionghoa telah menjalin persahabatan erat dengan penduduk pribumi khususnya suku Dayak. Tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini.
Dilarang Orde Baru
Di era Orde Baru, perayaan Imlek khususnya ritual Tatung dilarang dipertontonkan di depan umum. Namun pada era reformasi, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengizinkan kembali mengizinkan perayaan itu ditampilkan secara umum.